Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Kamis, 24 November 2016

MOHON DILIHAT KEMBALI - SETELAH HAMPIR SEPEREMPAT ABAD REFORMASI



MOHON DILIHAT KEMBALI SETELAH HAMPIR TIGAPEREMPAT ABAD - SIAPA YANG PUNYA NEGARA INI ??


Masyarakat mnjadi sadar. Persoalan murni teknis, telah menjadi batu pondasi Politik, yang berarti dasar menyatukan kekuatan masyarakat dalam satu Negara, yaitu INFRA STRUKTURE. Tidak hanya itu, tapi infra structure yang menyangkut kepentingan hidup orang banyak, kesejahteraan umum.


ALHAMDULILLAH, ini baru benar.



Sebelum ini infra structure negeri ini hanya menjadi pembicaraan kaum Ekonom, karena malu diri mereka menyebut dirinya kaum teknokrat. Sejenis Ali Wardhana, yang mencari untung thok untuk Boss Diktatornya atau Corporasi yang mengupahnya thok. Era kekuasaan orde baru, jalan antar kabupaten yang di aspal pkai hot mix halus muilus di Jawa Timur adalah jalan dari Kediri ke Bojonegoro, Knapa ? - Ini jalan lnspeksi dan angkutan Tembalau untuk Gudang Garam.lebih dari 150 km.


Lha kok sekarang diwarisi oleh si ex. menteri ESDMN, meskipun sudah di “make up” kayak pahlawan pembela kepentingan Rakyat. Simak perkara sumur munyak Marsela di Maluku., simak ex meteri Dahlan Iskan.


Dia menelad seperti yang telah dianut oleh Amerika Serikat selama hampir tiga abad, infra structure di jejalkan pembangunannya oleh para senator, congressmen, dengan beaya uang Negara. Bahkan perang penaklukan demi pemodal ganti kulit seperti ular, dilokasi baru dinegaranya, atau dilokasi baru dinegara orang lain untuk mebongkar gunung merusak lingkungan, bahkan memusnahkan satu suku bangsa, demi kuntungan sang Modal. Yang ini bukan manusia. Tapi yang mulia Modal


Membuat pabrik terintegrasi, otomatisasi, lebih canggih dengan lebih murah dinegaranya sendiri, sebab sudah disediakan jalan dan jembatan, ratusan kilometer dilokasi yang penduduknya jarang. Jadi tiak ada gangguan lingkungan hidup dan tanahnya masih murah, air dan energy sudah tersedia oleh beaya Negara. Dengan alasan penyerapan tenaga kerja. Itu semua dibeayai negara. Lokasi yang lama jadi kota hantu, lihat saja nanti dibawah Donald Trump.


Disana infra structure bukan jadi issue kepentingan umum, tapi kepentingan teknokrat yang mengabdi kepada Corporasi raksasa, dengan motif hanya mencari keuntungan saja. Edward Carnegy sudah wafat dan hartanya diwariskan kepada rakyat Amerika, tapi yang ini sang Modal, tidak bisa wafat, dia entitas yang abadi, kerjanya hanya mencari untung. Karyanya membesar dan berganti kulit, hingga tubuhnya menggilas apapun.


Yang Mulia Mokhtar Riyadi, si raja uang termasuk sepuluh urang terkaya di Indonesia, pernah diwawancara-i oleh TV yang pembawa acaranya nyaris meyembah bersoja kui, saking hormatnya, beliau bersabda dengan pelan sekata sekata supaya pemerintah Jokowi membuat infra structure jalan tol bebas hambatan untuk muatan berat yang menghubungkan factoty factorynya yang telah dibangun di Krawang, Gunung Putri dan Tangerang, supaya harga produksinya bisa kurang dan bisa bersaing di pasar bebas dunia masa kini, ini maunya.


Lha kebutuhan mendesak adalah membuat infra srukture untuk kehidupan rakyat sambil membuat mereka kebih produktip dengan hasil yang akan laku diexport, atau setidaknya sulih import . Lha duit dari mana ? Silahka joint venture dengan Negara yang membutuhkan tapioca banyak untuk bumbu masak, kalok sehari 10 gram saja rata tata per rumah tangga per hari, berapa kebutuhan tapioca setahun ? kan lahan gambut harus barair sedalam bawah zona akar, lah siapa yang bisa jaga kondisi itu, kan petani - ? Makanya bikin saluran multiungsi, mestinya serjana sarjana kita bisa, wong para Wali Tanah Jawa saja empat abad yang lalu sudah bisa kok !!!!


Meskipun import bahan khusus ini perlu sebab kita memang tidak berpotensi utuk memproduksi produk produk ini, sebab impor lebih murah dari Negara lain. Atau bila dipaksakan ya sangat sulit, umpama produksi kapas. gandum , kurma, bawang putih, alutsista yang caggih.


Pada umumnya produk produk industry, kita belum mampu memproduksi, meskipun nantinya akan mampu dan harus memproduksi sendiri sebab volumenya cukup banyak, bertahap.


Secara keseluruhan, bangsa ini memang bangsa yang sangat “tepa selira” bisa marasakan kesusahan orang lain dari Negara lain . Satu asset yang sangat berharga untuk mempersatukan kebinekaan kita, guna ikut membantu mereka yang menderita. Alam kita penuh bahaya bencana alam terletak sepanjang the ring of fire, pernah dibawah prnjajahan dalam waktu yang sangat lama kapan bangsa yang majemuk ini dipecah belah dan dikuasai, jutaan tahun daincam oleh penyakit tropis yang ganas seperti malaria, cholera, frambosia, kaki gajah, dan penyakit tropis yang ganas lainnya, yang barusan saja bisa diatasi oleh ilmu pengetahuan manusia dari seluruh dunia.


Jadi bangsa ini seharusnya secepatnya mampu bekerja keras untuk jadi rakhmatan lil alamin, seperti yang diharapkan oleh agama mayoritas penduduknya, sebab keadaan mengarahkan kita kesana.

Juga ajaran dan agama lain tidak kurang dari itu. Hanya dari suku suku kebinekaan kita, orang bisa belajar, betapa sempitnya dunia egoism feodal dalam tingkat puak dan suku, betapa rendahnya perang yang disebabkan perebutan hajat hidup – suku suku di Papua melakukan perang suku, dan berhenti sesudah korbannya sama jumlahnya, mereka benar benar berhenti dengan pesta bakar batu, makan daging yang direbus diantara batu batu membara dan umbi imbian dedaunan yang bisa dimakan, peperangan dapat dihentikan dengan pesta makan. Bukan menjadi dendam keturunan ribuan tahun dan dtambahi dengan kecanggihan teknologi , ekomoni dan sosiologi, untuk kejayaan salah satu Negara dan lenyapnya Negara lain. Sekarang kita tahu benar bahwa sifat itu dicetak oleh alamnya.


Dipadang pasir, oasis tepencar dan daya dukungnya terbatas dipisahkan padang pasir luas dan ganas, orang tidak perlu bersatu jadi berjumlah lebih dari daya dukung satu oasis. Orang harus waspada curiga kepada orang dari lain oasis yang bergerombol.


Jadi disana oasis oasis tidak perlu bersatu. Disana orang harus keras supaya hidup, tidak mau mengalah. Perlu hukum yang keras, tanpa ampun supaya hidup.


Disini alamnya memberi makan dengan mudah, orang hanya harus bersatu memburu binatang dan membuat mereka berbarengan, karena membuat lahan pertanian saja dengan membuka hutan, harus kerja berbarengan, sebab pohonya buesa buesar, belum bergiliran tidur menjaga serangan binatang liar. Membuat sistim pengairan, Jadi hidup dalam jumlah, dan mudah memaafkan untuk kerja sama.





Saya menebak, yang dimaksud dengan ifnra dtructures oleh Kabinet pak jokowi sekarag ini, adalah infra structures yang sangat dibutuhkan untuk membangunkan akonomi kehidupan rakyat banyak. Mulai jembatan gantung antar desa dan kota kecamatan atau sekolah, kapal ternak sapi/kebau yang bisa muat ribuan ekor dan mambawa balik makana konsentrate, hay dan silage yang sudah di press, sampai saluran air untuk mencegah pengeringan lahan ganbut dan menjadikannya lahan pertanian dengan petaninya yang mempertahankannya dari kebakaran yang sekaligus hidupnya lebih sejahtera, embung embung di NTT, dan penyediaan hidro listrik dan mikro hidrolistrik di Sulawesi tengah, dan Papua, selakigus menarik investor industry pendinginan ikan dari keramba raksasa di teluk Tomini, mengembalikan keberadaan perkebunan kelapa di sepanjang pantainya, bukan lagi membanjiri dengan racun tambang emas teluk Tomini, selang seling dengan hutan mangrove yang sudah diguduli dasana tanpa rencana untuk tambak udang. Ini semua infra structure yang terjankau. Asal daerah itu (Sumatra, Sulawesi, Maluku, NTT, Kalimantan) dibersihkan dari teroris dan penguasa setempat yang feodalistic skala puak dan kampung. Sebab di skala yang lebih besar para feodal ini jadi koruptor buaya yang makan cicak tanpa merasa salah, sedang diskala kampung dan puak para feodal ini kelas pemalak liar a’la pak Ogah, perdagangan narkoba tanpa merasa salah, pendukung teroris yang sesat dari tujuan nasional kita saja. Tidak kalah penting adalah kepedulian di wilayah perbatasan yang sangat memerlukan infra strukutures untuk menarik para calon “gafatar” yang pak Jokowi bisa menyulapnya jadi pahlawan pembela tanah air, asal ada infra structures yang cukup menhidupi ekonomi menengah saja. Dengan catatan ini bukan kerja sepele, ini pekerjaan kecil kecil dengan beaya tinggi, penuh dengan lalat calon koruptor yang tidak bertanggung jawab dan politisi hanya cari obyek percaloan, yang gentayangan di DPR dan Partai Politik dengan sikap sisa Orde Baru yang feodalistis. Ini sudah membuat Kabinet Pak Jokowi dan Pendukung nya sangat sibuk, dan makan hati. Sekian semoga Allah member ijabah kepada bangsa ini *)

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More