Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Sabtu, 05 November 2016

sEANDAINYA MASYARAKAN MASYARAKAT MANUSIA S BUNIA

SEANDAINYA MASYARAKAT MASYARAKAT MANUSIA DI DUNIA INI SUATU KELUARGA

Maka, kita msyarakat Indonesia adalah keluarga  miskin yang mempunyai anak  banyak, lagipula yang bungsu terhambat pertumbuhan mentalnya, dengan sendirinya mempunyai kebutuhan khusus ( menurut ilmu pendidikan sekarang).

Bagaimana tidak ? peristiwa 4/11/2016 Jum'at jm 7 petang, depan Istana Negara RI

Anak yang bungsu ini secara normal disebut anak Bengal, selalu membuat ulah,  rewel dan suka merajuk dan  memamerkan tantrum dengan alasan yang tak masuk akal,   bahkan bukan perilaku anak normal, apalagi orang dewasa. Pendidikan taklid kepada guru, tidak mengerti sejarah. 

Sudah sekira dua abad, kekuasaan dibagi menjadi tiga  institusi pokok, yaiu kekuasaan eksekutip, kekuasaan legislatip dan kekuasaan judikatip. Manurut pengalaman masyarakat Dunia,  bila  ketiga kekuasaan ini tidak ditangan tiga institusi yang satu sama lain tidak bisa saling menindas, bila tidak demikian, maka mudah sekali menjadi balik kembali ke susunan masyarakat yang sudah ditinggalkan yaitu  masyarakat feodal dengan satu  Despot Penguasa dan mudah sekali menjadi sewenang wenang.  Sesederhana itu.

Lha si Bungsu yang terbelakang mental ini,  merajuk tantrum membentur benturkan kepalanya sambil ngomel  menjerit jerit, supaya  saudaranya lain bapak,  yang tidak dia senangi  dan yang masih disangka menistakan   si bungsu,  karena plintiran berita dari anak tetangga , saudara sial ini bilang mukanya tembem.  Si bungsu yang  berkebutuhan khusus ini minta ortunya  segera menghukum  penjara  si saudara yang tidak dia senangi ini, bila tidak mereka tidak mau bobok, tetep dijalanan, supaya yang tidak dia senangi, tidak bisa ikut pemilihan pemimpin  sesama anak anak sepermainan  di kampungnya..

Aneh tapi nyata.

Bayangkan bagaimana repotnya sang ortu.

Kalau saya jadi ortunya anak  terbelakang mental dan mempunyai kebutuhah khusus ini, kepada dia juga harus dimengertikan dicekok-kan tentang  sarana aturan keluarga yang fundemental,  yaitu ortu  harus adil dan beradab , bukan ortu yang Despotik seperti zaman feodal. Apalagi hanya menuruti tantrum yang didasari  laporan plintiran berita.  Anak tetangga ini mesti diperiksa dulu, jangan lantas digebug kayak zaman pak harto dulu. anak ini dibesarkan dengan dimanja, semua harus membenarkan tuntutannya karena dia memang anak emas. 

Masak seorang “tokoh  agama” yang kebetulan juga mukanya tembem  sudah berani menentukan bahwa  berita ini  sudah final  ( tidak dipelintir ) bisa berakibat marahnya si anak bungsu terbelakang mental ini?  Karena mestinya dia tahu kemarahan anak luar biasa ini ya seperti itu, maunya si muka tembem  dan golongannya yang dari dulu cuek terhadap saudara saudarinya,  yang waras mengalah,  bukan memberi nasihat yang sebenarnya, yaitu jangan kesusu tapi diselidiki dulu.

Kan ini mengambil keuntungan dari mengail di-air keruh ? *)


 

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More